Kampung Dewi

Sudah hampir dua jam aku berkeliling komplek,namun orang yang aku cari tak kunjung ketemu. Dari rumah ke rumah ku ketuk pintu, tapi hasilnya nihil tak ada yang mengaku. Duh biyung nasib jadi kurir.Ku ketuk pintu entah yang keberapa puluhnya. Dari balik pintu terlihat sosok nenek bongkok dengan rambut putihnya.

“Iya..ada apa dek”
“Maaf nek apa disini ada yang namanya dewi?”
“Saya dewi”
“Dewi Puspitasari Ningtyias nek?”
“Ehmmmm siapa yah nama panjang nenek?”
Ya Alloh Gustiii tobat tobat. Ampuni hamba. Paket misteri ini mah.
Untuk : Dewi Puspitasari Ningtyias jln buntu rt 4/5

Bener-bener buntu, tak ada no rumahnya. Setiap rumah yang sudah aku datangipun mengaku tak kenal dengan nama itu. Karena tahunya cuma dewi saja. Ahhh daripada pusing akupun mampir ke warung. Aku pesan es teh manis.
“Ini es tehnya mas”
“Makasih bu”

Jeguk jeguk jeguk, terdengar suara aliran air mengarungi tenggorokanku. Si penjual sampai mlongo melihatku.
“Haussssss mas?”
“Haus sekali bu, dari tadi muter-muter nyari nama ini tapi ndak ketemu”
“Namanya siapa mas?”
“Dewi bu”
“Lah saya juga dewi”
“Ah yang bener bu dewi puspitasari ningtyias”
“Dewi Ningrum”
“Yah ibu kirain. Saya heran loh bu kok disini namanya dewi semua. Trus ibu kenal ndak dengan dewi ini?”
” saya ndak tahu kalau nama panjangnya sih ya. Cuma tahu panggilanya aja. Kadang nama panggilan jauh beda sama nama asli”
“Makanya itu bu dari tadi saya pusing seribu keliling”
“Saya aja dipanggilnya arum, saking banyaknya nama dewi disini. Coba saja tanya ke pak rt. Tuh rumahnya depan warung saya”
“Oalah iya yah, saking bingungnya jadi ndak inget”

Setelah habis 2gelas es teh dan mengucapkan terima kasih. Rumah berwarna ungu itu terlihat sepi. Aku memencet bel berharap pak rt ada di rumah dan bisa memberi secercah cahaya. Tak lama kemudian pintupun terbuka.
“Ada yang bisa saya bantu mas?”
“Maaf pak rt saya yunus pegawai kurir. Dari tadi saya nyari nama ini tapi ndak ketemu-ketemu”

Aku sodorkan paket besar itu. Pak rt membaca seksama nama yang tertera, sesekali dia menaik turunkan kacamatanya. Tak lama kemudian dia geleng-geleng kepala. Aduhhh gagal lagi ini, pikirku dalam hati.
“Gimana pak?”
“Wah maaf mas, selama saya jadi rt saya ndak punya data nama lengkap warga. Saya cuma tahu nama panggilannya saja”
“Ya ampun dewi-dewi dimana kamu berada”
“Nama istri dan anak saya juga dewi mas, tapi bukan dewi itu”

Pak rt akhirnya menceritakan asal usul kenapa kampung ini semua perempuanya bernama “DEWI”. Katanya pendiri kampung ini dulu punya anak perempuan yang sakit-sakitan bahkan hampir meninggal. Kemudian bermimpi kalau mau anak dan keturunannya selamat harus diberi nama dewi.
“Maka sejak itulah mas setiap anak perempuan yang lahir diberi nama dewi”
“Kalau yang nikahnya sama perempuan luar namanya bukan dewi gimana pak?”
“Ya mau ndak mau setelah menikah namanya harus ditambah ada dewinya”
“Oalahhhh begitu toh, unik yah ternyata ada cerita semacam itu”

Karena tak membuahkan hasil aku putuskan pulang, mataharipun semakin tenggelam. Biarlah aku dimarahi atasan gara-gara paket ini.
Ketika aku akan menyalakan sepeda motorku, tiba-tiba dari belakang terlihat perempuan muda berlari tergopoh-gopoh berteriak memanggilku.
“Tunggu sebentar mas”. Dia berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
“Iya ada apa mba”
“Itu paket buat saya. Maaf saya lupa kalau nama lengkap saya “Dewi Puspitasari Ningtyias”

Alamakkkkkkkkkk padahal mba nya ini orang pertama yang aku datangi. Saking banyaknya dewi, dia sendiri nyampe lupa sama nama lengkapnya. Ohhhhhh kampung dewi.

(JW)