Pentingnya E-KTP dalam Pilkades

Cenang, (cenang.desabrebes.id) – Setelah sosialisasi pelaksanaan pilkades tahap 2 oleh Pemerintah Kecamatan Songgom hari jum’at lalu, Pemerintah Desa Cenang, Songgom,Brebes bersama Badan Permusyawaratan Desa dan masyarakat membentuk panitia Pilkades Cenang di Aula Balai Desa, Sabtu malam(28/19).

Dalam sambutannya Kepala Desa Cenang Imam Rifa’i mengajak masyarakat untuk melakukan perekaman e-ktp bagi yang belum.

“Karena pilkades kali ini menggunakan e-voting maka warga Cenang harus mempunyai e-ktp atau surat keterangan perekaman. Bagi yang berumur tujuh belas tahun pada tanggal 15 desember tahun 2019 nanti diperbolehkan untuk perekaman,”ujar Imam.

Senada dengan Imam Rifa’i demi mendukung kegiatan pilkades, Pemerintah Kecamatan Songgom siap memfasilitasi perekaman di setiap desa. Camat Songgom Muhamad Sodiq mengutarakan untuk mempermudah perekaman bisa dilakukan di masing-masing desa, supaya lebih dekat.

“Kami memberikan kemudahan dengan mengadakan perekaman di Balai Desa Cenang supaya warga lebih antusias . E-ktp menjadi sangat penting untuk pilkades tahap 2 ini karena nantinya e-ktp itu akan ditempelkan pada alat pendeteksi identitas,”ungkap Sodiq.(JW)

Sosialisasi Pelaksanaan Pilkades Serentak Kecamatan Songgom

Cenang(cenang.desabrebes.id)- Pemilihan Kepala Desa(Pilkades) serentak tahap 2 Kecamatan Songgom akan dilaksanakan di empat Desa yaitu Wanatawang,Jatirokeh,Karangsembung,dan Cenang yang akan menggunakan E-Voting. Untuk kesuksesan pelaksanaan tersebut, Pemerintah Kecamatan Songgom mengadakan Sosialisasi Pelaksanaan Pilkades.

Sosialisasi berlangsung di Aula Kecamatan Songgom, Jum’at(27/09/19). Hadir Kepala Desa , Anggota BPD, dan Perwakilan Masyarakat.

Camat Songgom Muhamad Sodiq meminta kepada seluruh Perangkat Desa dan Badan Permusyawaratan Desa(BPD)melakukan persiapan yang matang.

“Berdasarkan surat Bupati No 141/3016 telah ditentukan jadwal kegiatan pembentukan peraturan Desa, panitia pemilihan dan lainnya. Semuanya harus cepat karena Pilkades akan dilaksanakan pada tanggal15 bulan Desember 2019. Maka itu langkah awal harus membuat perubahan APBDes untuk pembelian alat pemilihan,”ungkap Sodiq.

Karena pilkades menggunakan elektronik voting maka desa secepatnya membuat perubahan APBDes untuk membeli seperangkat alat seharga 70juta,tambah Sodiq.

Sementara itu Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintah Hukum dan Politik La Ode Vindar Aris Nugroho menjelaskan tentang penggunaan Elektronik Voting pada tahap pilkades gelombang 2 ini.

“Elektronik Voting(e-voting) adalah sistem pemilihan yang memanfaatkan perangkat teknologi dalam pemungutan suaranya. Jadi masyarakat tidak lagi mencoblos surat suara melainkan memilih menggunakan gambar yang tertera pada layar,”jelas Nugroho.

Manfaat dari E-voting adalah lebih akurat, cepat,efektif,mudah,dan aman. Sistem ini dapat menggantikan banyaknya surat suara yang rusak atau tidak sah. Sehingga lebih hemat. Nantinya setelah pilkades berakhir, alat ini bisa digunakan Pemerintah Desa untuk pelayanan masyarakat,imbuh Nugroho.
Semua

Mengenal Lebih dekat Pasukan Paskibra Upacara

Cenang, (cenang.desabrebes.id) – Upacara memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan dari ibukota Negara Jakarta sampai ke pelosok desa. Tidak mau ketinggalan Desa Cenang Kecamatan Songgompun menggelar upacara di lapangan desa.

Turut hadir anak PAUD HARUM,TK PERTIWI,SD Cenang 1 dan 2, SD Ma’arif,MTs Riyadlotul ‘Uqul,Perangkat Desa,Ketua RT/RW, serta Tokoh masyarakat ,Sabtu(17/19).

Peristiwa yang banyak ditunggu adalah pengibaran Bendera Merah Putih. Seperti biasa Pasukan Pengibar Bendera berasal dari siswa siswi MTs. Riyadlotul ‘Uqul Cenang. Bahkan demi tugas ini Pasukan diseleksi dan digembleng sebelum masuk tahun ajaran baru.

“Pasukan dipilih dan dilatih setiap hari selama 2 minggu supaya kompak dan teratur. Mereka dilatih dari peraturan baris berbaris dasar,”terang pelatih Wailal Fauzi .

Lanjut Wailal, jumlah anggota paskibra adalah 27 personil dari peserta didik kelas 7 sampai kelas 9, terdiri 19 perempuan dan 8 laki-laki. Tidak mudah melatih dan mengatur pasukan dengan jumlah tersebut butuh kesabaran dan kedisiplinan yang tinggi.

“Kendalanya adalah terkadang anggota tidak berangkat semua serta kurangnya komunikasi antara panitia upacara desa dengan pihak sekolah,”imbuh Wailal.

Bagi peserta didik kelas 7 inilah pengalaman pertama menjadi paskibra.Yusuf(14) mengatakan merasa gugup karena baru pertama kali menjadi paskibra dan ditonton banyak orang.

“Rasanya senang juga takut salah dan mengecewakan. Tapi bahagia benget karena acara berjalan lancar dan bangga pada diri sendiri,”kata Yusuf.

MTs. Riyadlotul ‘Uqul Sabet 6 Piala di Ajang Jambore Ranting Songgom

Songgom, (cenang.desabrebes.id) – Pengurus Pramuka Kwaran Songgom mengadakan Jamran(Jambore Ranting) dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka yang ke-54 di Lapangan SMK N 2 Songgom dari tanggal 13-15 Agustus 2019,Kamis (15/8).

Adapun peserta yang ikut adalah seluruh Gudep SD dan SMP/MTs se-Kecamatan Songgom. Untuk meningkatkan prestasi peserta, panitia mengadakan berbagai macam lomba baik berupa lomba olah fisik maupun keterampilan dan pengetahuan kepramukaan.
Tahun ini seperti biasa MTs. Riyadlotul ‘Uqul mengirimkan perwakilan terbaiknya putra putri penggalang yang siap mengikuti semua kegiatan dengan tertib dan sportif.

Dikatakan oleh Pembina Pramuka Gudep Mts.RU Roikhatul Janah, anak didiknya sangat antusias menghadapi Jambore tahun ini. Setiap hari mereka latihan dari pagi sampai sore demi menunjukan bahwa mereka bisa.

Selain itu, Janah juga menambahkan tahun sebelumnya Mts mendapat Juara umum 3 berturut-turut selama 3 tahun, namun tahun ini kami harus terima berada di urutan ke empat.

“Alhamdulilah anak didik kami telah melaksanakan dan berusaha sekuat mungkin. Tanpa lelah berjuang yang akhirnya membuahkan 6 piala. Meskipun tahun ini tidak juara umum, kami tetap bangga pada mereka dan semangat terus untuk memperbaiki,”pungkas Janah.

Mereka harus menghadapi 8 SMP/MTs lainya se kecamatan songgom yang tidak mudah ditumbangkan juga, tambah Janah.

Mts.Riyadlotul ‘Uqul berhasil menyabet 6 piala yaitu pada lomba PBB,Kolone tongkat,Pramuka Pintar,Pindah Bom,Pembacaan Pembukaan UUD 45.

Sebagai Bantara yang melatih dan menjaga selama perkemahan Wailal mengungkapkan kekecewaanya karena tidak juara umum.

“Kecewa sudah pasti tapi harus menerima hasilnya. Lelah yang dirasa terbayar dengan membawa pulang 6 piala. Yang terpenting tetap semangat,”ungkap Wailal.

MTs.Riyadlotul ‘Uqul Tingkatkan Kedisiplinan Melalui Perjumsa

Cenang (cenang.desabrebes.id) – Salah satu program kerja Gugus Depan MTs.Riyadlotul ‘Uqul Cenang yaitu Kegiatan Perkemahan Jum’at Sabtu(Perjumsa) untuk peserta didik baru. Dengan tujuan menyambut dan mengukuhkan dari anggota Siaga ke Penggalang,Sabtu(27/7/2019)

Ada 66 anggota baru yang akan diresmikan sebagai penggalang. Mereka bergabung dengan kakak kelas mengikuti acara yang sudah ditentukan mulai dari wide game,masak-memasak, sampai jeritan malam.
Kegiatan dilaksanakan di halaman sekolah dari hari jum’at sampai dengan sabtu.

Pada malam harinya semua peserta menikmati api darma. Dewan Penggalang melalui upacara Api Darma menyerukan Dasadarma pramuka yang disaksikan oleh warga sekitar. Yang dilanjutkan dengan pentas seni.

Selaku pembina upacara Asep Wahyudin mengingatkan pentingnya kedisiplinan dan akhlak mulia.
“Selamat datang bagi murid baru di Gudep Mts.Riyadlotul ‘Uqul ikutilah peraturan yang sudah ditentukan dari awal sampai akhir. Latih kedisiplinan dari kegiatan perjumsa ini supaya belajar lebih teratur,”ungkap Asep.

Asep juga mengingatkan pentingnya memiliki akhlak baik dalam pergaulan sehingga tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif.
Perjumsa tidak hanya dilaksanakan di halaman sekolah, sabtu pagi peserta melanjutkan kegiatan di Pantai Alam Indah(PAI) Tegal. Selain untuk lebih mencintai alam, pergi ke pantai ini juga sebagai ajang rekreasi.

Salah satu peserta didik baru Wulan Sapirah(14) mengatakan sangat antusias karena bisa jalan-jalan ke pantai bersama kawan-kawanya. (JN)

Sugeng Mulyono | Sekretaris Desa Zaman Milenial

Cenang, (cenang.desabrebes.id) – Menjadi Sekretaris Desa (Sekdes) zaman milenial mempunyai tantangan tersendiri. Harus menguasai teknologi karena semuanya harus cepat. Bertanggung jawab serta selalu berinovasi merupakan hal yang wajib dilakukan agar pekerjaan terselesaikan dengan baik.

Pernyataan tersebut diungkapkan Sekretaris Desa Cenang, Songgom, Brebes Sugeng Mulyono saat membeberkan sejarah perjuangan hidupnya sampai akhirnya menjadi Sekdes/Carik Cenang di Balai Desa Cenang, Senin (1/7).

“Sebelum menjadi Carik, saya pernah menjajal sebagai bakul padi dan bawang. Tapi tidak bertahan lama, karena tahun 2003 sampai 2005 saya melancong ke Jakarta bekerja di PT. Aneka Spring Telekomindo sebagai Cleaning Service,” kenang Sugeng.

Pria 37 tahun ini melanjutkan kisahnya, tahun 2007 dia ditawari menjadi pamong dibagian Kaur Ekonomi dan Pembangunan. Selama menjadi pamong Sugeng sempat menyerah dan ingin keluar saja mencari pekerjaan lain. Namun, berkat dorongan dari keluarga akhirnya diapun bertahan sampai tahun 2017.

Tahun 2018 menjadi tahun yang bersejarah baginya. Karena kegigihannya mengerjakan semua proposal desa dan dikirim untuk mengikuti bintek (Bimbingan Teknis) sistem keuangan desa. Dari situlah Sugeng mulai paham tentang administrasi dan keuangan desa. Dan akhirnya pada tanggal 4 April 2018, Sugeng dilantik sebagai Sekdes menggantikan Kuntoro.

Menjadi Sekdes termuda sepanjang sejarah Cenang dan hidup di zaman milenial mewajibkannya berpikir cerdas dan kreatif, serta harus tahan banting.

“Awalnya susah sekali mengerjakan APBDes (Anggaran Pendapatan Belanja Desa), sampai saya lembur 3 hari 2 malam. Alhamdulilah teman pamong yang lain ikut membantu. Dan yang terpenting adalah dukungan keluarga yang merasa bangga akan pekerjaan saya. Tapi, sayang ada yang kecewa dengan pekerjaan baru saya yaitu mantan,”kelakar Sugeng.

Menjadi Sekretaris Desa bukanlah cita-citanya, proseslah yang kemudian mengantarkannya ke kursi Sekdes. Bekerja dengan tanggungjawab dan mengerjakannya dengan baik adalah kuncinya. Sampai saat sekarang lulusan dari SMK Muhamadiyah 3 Purwokerto ini masih tetap belajar supaya semua administrasi di Desa tersistem mudah, teratur dan bisa dipahami semua perangkat desa. Jika itu terwujud maka kerja lebih mudah dan lebih transparan.

“Saya berharap kaum muda Cenang bekerja dengan fokus dan mensyukuri apa yang ada, serta mau berkontribusi aktif memajukan desanya,”harap Sugeng. (JW)

Biodata :
Nama lengkap : Sugeng Mulyono
Ttl : Brebes, 14 Mei 1982
Alamat : Jln. Katimaha Rt 03/03 Cenang
Pendidikan : SD Gegerkunci 2, SMP N 3 Jatibarang SMK Muhamadiyah 3 Purwokerto
Pengalaman kerja : Bakul Padi dan Bawang, Cleaning Service, tukang tambal ban, Kaur Ekonomi dan pembangunan, dan sekretaris Desa Cenang.
Nama Istri : Aisah
Nama anak : Ugi Putra Pratama

Komitmen Pemdes Cenang Tuntaskan ATS

Cenang(desabrebes.id)-Masalah pendidikan terutama banyaknya Anak Tidak Sekolah(ATS) menjadi perhatian khusus Pemerintah Desa Cenang,Songgom,Brebes. Dari tahun ke tahun upaya pengentasan masalah tersebutpun dilakukan. Salah satu upayanya yaitu membuka posko pengaduan dan pendaftaran bagi anak yang ingin kembali ke sekolah, baik jalur formal maupun informal.

Dihubungi melalui telepon, Sekretaris Desa Cenang Sugeng Mulyono menjelaskan posko tersebut dibuka untuk masyarakat yang ingin mendaftarkan anaknya kembali sekolah atau memberi informasi terkait ATS ,Jum’at(28/6).

“Kami Pemerintah Desa membuka posko pengaduan itu supaya masyarakat tidak kebingungan jika ingin menyekolahkan anaknya melalui Gerakan Kembali Bersekolah Cenang. Tak perlu ragu atau sungkan datang ke Balai Desa atau Sekretariat FMPP”,tegas Sugeng.

Lanjut Sugeng, Pemerintah Desapun siap menggelontorkan Dana Desa sebesar 59juta untuk kebutuhan pendidikan. Dana tersebut diperuntukkan pembelian baju seragam serta perlengkapan sekolah lengkap bagi mereka yang kembali ke sekolah.

Tidak hanya itu, keseriusan Desa Cenang mengentaskan permasalahan ATS bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa(BPD) adalah dengan membuat dan mengesahkan Perdes No 900/21 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tingkat Desa. Dalam pasal 8 disebutkan bahwa ATS yang ingin kembali bersekolah bisa mendapat bantuan dari Pemerintah Desa yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan Desa.

Sementara Ketua Forum Masyarakat Perduli Pendidikan(FMPP) Cenang Moh.Pahruroji mengatakan target tahun 2019 mengembalikan 90 anak, yaitu 30 jalur formal(SD/SMP/MTS/SMA) dan 60 jalur informal.
“Melalui jalur informal sudah ada PKBM Maju Bersama yang siap melayani pendidikan masyarakat Cenang”,tutur Pahruroji.(JW)

Drumband MTs. Riyadlotul ‘Uqul Cenang Kebanjiran Order

Cenang (cenang.desabrebes.id)-Bulan Juni sepertinya menjadi keberuntungan bagi drumband MTs.Riyadlotul ‘Uqul Cenang,Songgom, Brebes. Pasalnya sudah empat kali group ini dapat panggilan manggung di berbagai acara, baik hajatan maupun wisuda. Kali ini drumband mengisi acara wisuda PAUD Bahrul Ulum di Dukuh Pengilon, Desa Wanatawang, Songgom, Brebes,Senin(24/6/19).

Sebelum tampil anak-anak berlatih supaya hasilnya tidak mengecewakan. Marine Oktavirani Dewi guru pendamping group mengungkapkan kegembiraanya karena masyarakat percaya kepada drumband MTs ini.

“Agar penampilan mereka lebih baik,diadakan latihan di sore harinya. Meskipun setiap latihan ada saja anak-anak yang harus dijemput di rumahnya. Tetapi saya senang karena selain menambah uang kas, penampilan ini sekalian promosi sekolah mengingat sudah masuk pendaftaran peserta didik baru. Dengan harapan banyak yang mendaftar”,jelas Marine.

 

Sudah empat kali ini drumband MTs diundang untuk menghibur. Meskipun lelah karena harus berleliling jauh, tapi murid yang terdiri dari kelas 7dan 8 ini tetap kompak dan semangat mengalunkan beberapa lagu.

Demi tampilan yang menarik dan tidak membosankan, mayoret datang pagi-pagi untuk dirias dengan gaya dandanan yang bervariasi. Marine selaku perias juga menambahkan mayoret jarang pergi ke salon pengantin untuk sewa baju dan riasan.

“Saya sendiri yang merias selain mengirit ongkos, hal ini bisa mengasah kemampuan saya secara otodidak dalam merias. Bulan Juli mendatangpun sudah ada panggilan lagi untuk MTs kami”,kata Marine.

Sementara itu  Ketua PAUD Bahrul Ulum Ma’muri mengutarakan alasanya mengundang drumband MTs. Riyadlotul ‘Uqul karena supaya acara wisuda tambah meriah dan pastinya harga yang ditawarkan masih bersahabat.

(JW)

Warga Belajar PAKET B Ikuti Ujian Semester Genap

Cenang(desabrebes.id)-Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat(PKBM) Maju Bersama Desa Cenang Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes menyelenggarakan Ujian Akhir Semester(UAS) Genap Tahun 2018/2019 bagi murid paket B. Ujian dilaksanakan di Kantor Sekretariat PKBM yang baru,Rabu(19/6/2019).

Wakil Ketua PKBM Maju Bersama Cenang Moh. Pahruroji mengungkapkan bahwa ujian dilakukan selama tiga hari mulai senin sampai rabu yang diawasi oleh tutor dan penyelenggara. Ada 6 mata pelajaran yang diujikan yaitu Pkn,Matematika,Ips,Bahasa Indonesia,Ipa, dan Bahasa Inggris. Yang semua soalnya dikirim oleh Dinas Pendidikan Non-Formal Kabupaten Brebes.

Harapan kami dengan adanya program kesetaraan di PKBM Maju Bersama anak-anak yg belum lulus sekolah dapat terlayani  untuk mendapatkan ijazah dan mensukseskan Gerakan Kembali Bersekolah(GKB) Brebes,sehingga Brebes lebih maju karena warganya berpendidikan,imbuh Pahruroji.

PKBM Maju Bersama tidak hanya menyelenggarakan pe didikan paket B(setara SMP/sederajat) namun siap menerima paket A(SD),Paket C(SMA/sederajat),serta pelatihan komputer. Sudah dibuka pendaftaran peserta baru untuk tahun ajaran 2019/2020. Masyarakat Cenang dapat datang langsung ke sekretariat PKBM di Jalan Raya Wijahan Cenang rt 04 rw 05.

Salah satu peserta Sobiroh dari Dukuh Tegalurung mengatakan dirinya tidak menyangka sebentar lagi akan naik kelas 9, itu artinya tahun depan dia harus ujian nasional dan lulusnya bersamaan dengan kelulusan anaknya yang di Sekolah Menengah Kejuruan(SMK).

(JW)

Perayaan Wisuda Akbar PAUD Al Hidayah Cenang

Cenang, (cenang.desabrebes.id)- Pelaksanaan Wisuda sudah menjadi agenda tahunan di Institut Pendidikan. Tidak hanya mahasiswa yang merayakan kelulusan dengan wisuda sebagai tanda tamat sekolah. Wisuda juga diadakan mulai dari tingkat pendidikan usia dini.

Salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini Al Hidayah Desa Cenang Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes Jawa Tengah melaksanakan kegiatan wisuda akbar dengan menggandeng drumband MTs Riyadlotul ‘Uqul sebagai penghibur.

Siswa PAUD Al Hidayah diarak menggunakan odong-odong dengan iringan alunan musik drumband MTs. Mengelilingi desa Cenang dari gang ke gang terlihat murid PAUD Al hidayah terlihat gembira. Arak-arakan ditonton masyarakat sekitar, tak sedikit yang mengambil foto dan mengikuti rombongan dari belakang, Selasa(18/05/2019).

Pimpinan PAUD Al hidayah yaitu Tarmun menjelaskan tahun ini ada 25 anak yang diwisuda.
“Tahun ini adalah angkatan ke-11. Ada 25 siswa yang wisuda, besar harapan kami semoga anak-anak ini menjadi generasi penerus bangsa yang handal”,pungkas Tarmun.

Seperti tahun sebelumnya kami mengundang drumband MTs Riyadlotul ‘Uqul Cenang untuk memeriahkan acara. Selain menghibur hal ini sebagai ajang lebih memperkenalkan lagi keberadaan MTs supaya anak Cenang khususnya melanjutkan sekolah di MTs Riyadlotul ‘Uqul saja yang lebih dekat, tambah tarmun.

Sama halnya yang diungkapkan oleh guru pendamping MTs Roikhatul Janah, dengan kegiatan ini sekaligus mempromosikan sekolah karena sebentar lagi ada penerimaan murid baru.

“Hari sebelumnya kami sudah latihan supaya penampilan maksimal. Mayoret dirias mulai subuh karena acara pukul 9 pagi. Kami berharap penampilan drumband ini dapat menarik perhatian warga Cenang dan menyekolahkan anak mereka ke MTs kami”,ungkap Janah. (JW)

Kampung Dewi

Sudah hampir dua jam aku berkeliling komplek,namun orang yang aku cari tak kunjung ketemu. Dari rumah ke rumah ku ketuk pintu, tapi hasilnya nihil tak ada yang mengaku. Duh biyung nasib jadi kurir.Ku ketuk pintu entah yang keberapa puluhnya. Dari balik pintu terlihat sosok nenek bongkok dengan rambut putihnya.

“Iya..ada apa dek”
“Maaf nek apa disini ada yang namanya dewi?”
“Saya dewi”
“Dewi Puspitasari Ningtyias nek?”
“Ehmmmm siapa yah nama panjang nenek?”
Ya Alloh Gustiii tobat tobat. Ampuni hamba. Paket misteri ini mah.
Untuk : Dewi Puspitasari Ningtyias jln buntu rt 4/5

Bener-bener buntu, tak ada no rumahnya. Setiap rumah yang sudah aku datangipun mengaku tak kenal dengan nama itu. Karena tahunya cuma dewi saja. Ahhh daripada pusing akupun mampir ke warung. Aku pesan es teh manis.
“Ini es tehnya mas”
“Makasih bu”

Jeguk jeguk jeguk, terdengar suara aliran air mengarungi tenggorokanku. Si penjual sampai mlongo melihatku.
“Haussssss mas?”
“Haus sekali bu, dari tadi muter-muter nyari nama ini tapi ndak ketemu”
“Namanya siapa mas?”
“Dewi bu”
“Lah saya juga dewi”
“Ah yang bener bu dewi puspitasari ningtyias”
“Dewi Ningrum”
“Yah ibu kirain. Saya heran loh bu kok disini namanya dewi semua. Trus ibu kenal ndak dengan dewi ini?”
” saya ndak tahu kalau nama panjangnya sih ya. Cuma tahu panggilanya aja. Kadang nama panggilan jauh beda sama nama asli”
“Makanya itu bu dari tadi saya pusing seribu keliling”
“Saya aja dipanggilnya arum, saking banyaknya nama dewi disini. Coba saja tanya ke pak rt. Tuh rumahnya depan warung saya”
“Oalah iya yah, saking bingungnya jadi ndak inget”

Setelah habis 2gelas es teh dan mengucapkan terima kasih. Rumah berwarna ungu itu terlihat sepi. Aku memencet bel berharap pak rt ada di rumah dan bisa memberi secercah cahaya. Tak lama kemudian pintupun terbuka.
“Ada yang bisa saya bantu mas?”
“Maaf pak rt saya yunus pegawai kurir. Dari tadi saya nyari nama ini tapi ndak ketemu-ketemu”

Aku sodorkan paket besar itu. Pak rt membaca seksama nama yang tertera, sesekali dia menaik turunkan kacamatanya. Tak lama kemudian dia geleng-geleng kepala. Aduhhh gagal lagi ini, pikirku dalam hati.
“Gimana pak?”
“Wah maaf mas, selama saya jadi rt saya ndak punya data nama lengkap warga. Saya cuma tahu nama panggilannya saja”
“Ya ampun dewi-dewi dimana kamu berada”
“Nama istri dan anak saya juga dewi mas, tapi bukan dewi itu”

Pak rt akhirnya menceritakan asal usul kenapa kampung ini semua perempuanya bernama “DEWI”. Katanya pendiri kampung ini dulu punya anak perempuan yang sakit-sakitan bahkan hampir meninggal. Kemudian bermimpi kalau mau anak dan keturunannya selamat harus diberi nama dewi.
“Maka sejak itulah mas setiap anak perempuan yang lahir diberi nama dewi”
“Kalau yang nikahnya sama perempuan luar namanya bukan dewi gimana pak?”
“Ya mau ndak mau setelah menikah namanya harus ditambah ada dewinya”
“Oalahhhh begitu toh, unik yah ternyata ada cerita semacam itu”

Karena tak membuahkan hasil aku putuskan pulang, mataharipun semakin tenggelam. Biarlah aku dimarahi atasan gara-gara paket ini.
Ketika aku akan menyalakan sepeda motorku, tiba-tiba dari belakang terlihat perempuan muda berlari tergopoh-gopoh berteriak memanggilku.
“Tunggu sebentar mas”. Dia berhenti dengan nafas ngos-ngosan.
“Iya ada apa mba”
“Itu paket buat saya. Maaf saya lupa kalau nama lengkap saya “Dewi Puspitasari Ningtyias”

Alamakkkkkkkkkk padahal mba nya ini orang pertama yang aku datangi. Saking banyaknya dewi, dia sendiri nyampe lupa sama nama lengkapnya. Ohhhhhh kampung dewi.

(JW)